Konichiwa! Cerita dari Negeri Sakura (I)

Apa obat yang paling mujarab melawan suntuknya rutinitas? Liburan, tentu saja!
Bulan Mei 2015 lalu, saya dan my gambreng travel mate, Marta, berlibur ke salah satu destinasi yang telah menjadi target lama kami: Jepang.

Perjalanan ini cukup ajaib, karena kami menargetkan dapat mengunjungi lima kota dalam waktu lima hari dan berikut adalah hal – hal yang bikin masih belum bisa move on.

Toilet Experience – That’s what Marta called : special moment.

Toilet, adalah pengalaman yang pertama kali masuk catatan kami sejak menginjakkan kaki di Jepang yang kala itu tengah memasuki musim semi. Yap, toilet adalah yang pertama kali kami tuju setelah mendarat di Kansai Airport, Osaka.

photo 3 (5)

Bukan apa-apa, dalam persiapan keberangkatan, kami sempat membaca beberapa blog yang menyebutkan bahwa toilet Jepang terkenal dengan tombolnya yang segambreng. Dan tadaaa.. bener lho banyak tombolnya. Yang paling unik adalah tombol yang bisa mengeluarkan musik. Karena mengeluarkan bebunyian dalam bilik toilet ternyata dianggap sebagai hal yang memalukan, jadi diciptakanlah tombol yang mengeluarkan musik untuk meredam suara panggilan alam hehehe.

Tapi memang sih, toilet di Jepang ini super nyaman dan luxury. Begitu duduk langsung terasa hangat. Kalau mau membersihkan area penting pun hanya perlu tekan tombol. Praktis dan nggak bikin tangan basah. Our nature ritual has never been so much fun until we experience Japanese toilet.

Nyasar adalah ‘Kewajiban’!

Semua blog yang saya kunjungi saat riset tentang Jepang kompak menyebutkan satu hal: Lost in Japan. Tidak peduli pakai Google Map, atau apa pun, kamu pasti bakal tersesat.

S__11427845.jpgBetul saja, ini terjadi pada kami sejak hari pertama, gara-gara ngebet nyobain Takoyaki dan Okonomiyaki asli Osaka, kami jadi nyasar di Namba dan misi kami menemukan Glico man yang menjadi landmark Osaka pun gagal. Buat yang tinggal di daerah Denpasar, Namba ini bisa jadi mengingatkan pada daerah Monang-Maning dengan gang-gang kecilnya yang bisa nembus ke mana-mana. Jadilah kami berputar-putar dan ujung-ujungnya, kami gagal menemukan Glico Man, karena sudah kemalaman dan kami masih harus mengejar kereta.

Saya pikir dengan ritme kerja orang Jepang yang ketat, kereta api di sini bakal available 24 jam. Ternyata saya salah. Kata Sudo—teman kami yang bekerja di daerah Shinagawa, Tokyo—hanya kereta di Tokyo yang beroperasi hingga lewat tengah malam. Itupun hanya sampai jam satu pagi. IMG_1170

Jadilah kami buru-buru menuju stasiun. Berbekal pocket wifi dan HP yang baterainya sama-ama sekarat, kami mencoba memastikan bahwa kami menaiki kereta yang benar. Tapi tetap kami mengalami insiden kelewatan satu stasiun transit. Untungnya kami bisa sampai Kyoto dengan selamat.

Penumpang newbie seperti kami ini memang harus cermat saat di atas kereta. Kami misalnya, sempat berada di Osaka loop line selama hampir sejam sampai akhirnya kami sadar bahwa kami hanya berputar-putar dan selalu kembali ke tempat yang sama.

One Fine Day di Nara & Kyoto

Situs Japan-guide.com menyebut Nara sebagai kota nomor 4 terpopuler di Jepang. Tidak hanya terkenal dengan kuil dan taman cantiknya, salah satu ciri khas kota ini adalah rusa-rusa jinak yang dilepas begitu saja sepanjang jalan. Jangan khawatir, Rusanya jinak kok (dan juga fotogenik)!

Di Nara, kami mengunjungi Todai-ji temple, sebuah kuil terbesar di Nara dengan Patung Buddha raksasa. Setelah membakar hio, meniupkan beberapa doa dan berjalan – jalan di sekitar kuil, saya pun penasaran dengan sebuah pojokan yang cukup ramai. Ternyata para pengunjung sedang antri mengocok sebatang bambu berisi sumpit-sumpit yang ditulisi dengan nomer tertentu. Karena penasaran, saya pun ikut ngantri dan mencoba peruntungan saya. Kode alam : a good luck 😉

S__11427843.jpgHari beranjak siang, tidak punya banyak waktu kamipun bergegas ke Kyoto. Sebelum melanjutkan kuil berikutnya, guide kami hari itu, Sigit dan Hiroko mengajak kami makan di salah satu ramen terenak di Jepang. Ichiran ramen. Tempatnya lucu dengan partisi – partisi dimana setiap orang bisa makan dengan lahap tanpa perlu berkomunikasi dengan orang di sebelahnya. Yup di jepang, ramen bukan dimakan sambil nongkrong-nongkrong cantik, tapi lebih banyak buat para salaryman/woman yang punya waktu makan siang terbatas jadi pas makan tinggal lep. Tapi kalau ramennya seenak ini, masak tinggal lep ya makannya?

Tepat sekitar jam 1 siang kami memulai perjalanan (menanjak) menuju Kiyomizudera temple. Sebuah kuil terbesar di Kyoto, terdiri dari beberapa tempat untuk yang ditujukan untuk memohon rejeki, keselamatan, (ehm) jodoh hingga kesuburan bagi pasangan yang sudah menikah. Setelah Kiyomizudera, kami melanjutkan perjalanan melewati Higashiyama, kawasan yang di lengkapi dengan toko souvenir, snack, asinan, manisan, café, restaurant  di sepanjang jalannya. Karena hari makin sore, sembari berjalan kaki melewati Yasaka shrine dan Kamogawa River kami memutuskan untuk mencari makan malam sekitaran Gion.

20150517_161406

Tibalah kami di sebuah restoran kecil disudut jalan, bangunannya terbuat dari kayu bergaya semi tradisional. Seperti jam makan malam pada umumnya, meja-meja di sini dipenuhi pengunjung baik lokal maupun turis, untunglah masih ada satu tempat dekat jendela untuk kami. Saya dan Martha percayakan pilihan makanan kepada Hiroko dan Sigit. It’s holiday anyway, even the brain deserves a break sometimes 😛

Satu per satu datanglah Tempura, kemudian Salad berisi rumput laut dan tofu, sorry I could not remember the name but I can tell you the taste is really good, lalu makanan berisi tauge dan leher ayam, ah leher ayam? Tapi gak kliatan kayak leher ayam! Dan… Chicken Wings. What? Who ordered Chicken Wings? Buat saya Chicken Wings terlalu biasa, dimana mana ada. Tapi Sigit dan Hiroko berhasil meyakinkan saya untuk mencoba. Seperti masakan Jepang yang berbumbu ringan dan bercita rasa segar. Chicken wings aja enak banget!  Lucunya tempat ini memutar lagu – lagu The Beatles sepanjang malam itu. Good food, good place, good friends and my favorite songs.

There are places I remember all my life though some have changed… (“In My Life” by The Beatles)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: