Konichiwa! Cerita dari Negeri Sakura (II)

Di Osaka dan Kyoto, kami sudah akrab dengan pemandangan orang yang berlalu-lalang  dengan langkah cepat, terutama di stasiun. Well, this is Japan. I even enjoying watching many people walking fast. Tapi ‘the next level’ kami jumpai di Tokyo , sejak turun di stasiun keretanya. Alamak, super rame, super cepat. Kami pun harus menepi supaya ng gak pusing ngeliat orang-orang berseliweran. Hebatnya lagi, mereka gak tabrakan satu sama lain. Ok, welcome to Tokyo!

Titik yang paling sibuk adalah Shibuya, dengan lautan manusia yang menyeberang dengan langkah super cepat. Gila! Sensasinya patut dicoba!! Di sini, kita juga bisa mengambil foto dengan patung Hachiko, si anjing yang setia itu. Belum ke Shibuya kalo belum fotoan sama Hachiko.

Di sepanjang jalan Tokyo yang sibuk, menyaksikan penduduk Jepang yang beragam adalah satu hal yang mengasyikkan. Ada pelajar dengan seragam kawaii seperti di anime. Ada juga para pekerja pria dengan setelan rapi yang biasa disebut dengan ‘Salary Man’. Bahkan ketika kami bertemu Sudo-san yang bekerja sebagai chef pun sepulang kerja dia harus mengenakan setelan kemeja putih plus blazer dan celana hitam.

Nggak cuma weekdays, Salary Man bisa ditemukan di hari Minggu. Berdasarkan pengamatan kami, Salary Man di Osaka lebih doyan mingle dengan kawan-kawannya sementara yang di Tokyo lebih sibuk dengan gadget masing-masing.

Vending Machine Segala Rupa

Seberapa sering Anda melihat vending machine di Indonesia? Well, di Jepang, alat ini populasinya segambreng-gambreng. “Setiap 5 langkah kita bisa menemukan vending machine,” ujar Marta yang berkali-kali menyemplungkan uang recehnya.

Yang unik, tak cuma untuk membeli minuman lucu-lucu, alat ini juga berfungsi untuk mengorder makanan. Kami sempat mencobanya di salah satu vending machine yang terletak di depan sebuah kedai di stasiun Shimbashi, Ginza. Untungnya, kami sempat Sigit dalam mengoperasikan alat ini. Mungkin kelihatan ndeso, tapi masalahnya semua keterangan ditulis dalam Hiragana.

photo-3-51.jpg

Berbekal ‘pelatihan’ itu, kami dengan PD memilih chicken katsu dan nasi sebagai order. Setelah membayar, muncul dua lembar slip yang harus ditunjukkan pada koki kedai. Lucunya, setelah membawa slip ini koki masih memperlihatkan menu yang harus kami pilih. Dan semuanya menu Soba. Karena nggak merasa punya urusan dengan soba, saya pun bengong, nggak tahu harus berkata apa. Setelah koki coba menjelaskan, akhirnya Marta mengerti bahwa yang di depan tadi adalah side dish yang menemani menu soba dari kedai ini. Jadi ini kedai soba toh!

So(k) cute di Maid Café, Akihabara

Suka Gundam? Hello Kitty? Atau AKB48? Apa pun itu, bisa jadi di satu sudut Jepang berdiri sebuah café yang khusus bertema hal yang kamu suka. Yang kami kunjungi, adalah sebuah Maid Café yang terletak di Akihabara. Lokasinya ada di satu gedung kecil yang bergabung dengan beberapa perusahaan lain, namun kafenya sendiri memiliki 4 ruangan di lantai yang berbeda.

Begitu masuk kami langsung disambut dengan (kelewat) ceria oleh salah satu hostess yang berpakaian ala Victorian Maid. Kami di arahkan menuju ke lantai 4 dan…tibalah kami di sebuah café bernuansa pinkish dan cute yang semua pelayannya menggunakan baju ala maid. Entah kebetulan atau tidak, selama kami di sana tak ada pengunjung asli Jepang, semua orang asing. Termasuk aki-aki ber berlogat Melayu di meja seberang kami.

photo 5 (4).JPG

Yang membuat bulu kuduk berdisko adalah cara memanggil waitress dan menyambut makanan datang. Nggak hanya wajib mengikuti gaya waitress-nya yang super duper cute, kami harus bilang “Miao Miao” sambil meniru gaya maneki neko, alias patung kucing yang tangannya memanggil-manggil. Saking malunya, pria bule yang duduk di sebelah kami ogah memanggil waitress meski membutuhkannya.

Makanan di tempat ini terbilang mahal dan biasa aja. Dua porsi nasi goreng dan steak serta minuman menghabiskan ¥3000 atau sekitar Rp 330 ribu. Ini masih ditambah ongkos ekstra bila kamu mau berfoto bersama para waitress yang kawaii itu. Tapi, café ini memang bukan soal makanannya, melainkan dining experience yang layak dicoba.

Lost in Translation

Begitu sampai di Tokyo, Marta menelepon seorang teman lamanya yang merupakan penduduk asli ibukota negara ini. Sudo namanya. Dulu Marta dan Sudo sempat bekerja di sebuah restoran Jepang di Malaysia.

Sejak awal Marta sudah mewanti-wanti agar Google Translate selalu siap sedia ketika bertemu Sudo yang tidak begitu lancar berbahasa Inggris. Awalnya saya ragu, bukankah Sudo pernah kerja di Malaysia, jadi setidaknya Bahasa Inggris-nya lumayan.

Ternyata omongan Marta terbukti. Saat kami dan Sudo makan malam di sebuah restoran di Ginza—yang memiliki menu lidah sapi yang enak—Sudo memang nggak bisa berbahasa Inggris. Sementara kami, tidak bisa berbahasa Jepang. Klop sudah! Walhasil percakapan kami harus diketik dan diterjemahkan dulu via Google Translate, baru saling menunjukkan smartphone satu sama lain.

Meski communication barrier menghadang, di hari keempat Sudo nggak kapok menemani kami, bahkan mengajak pacarnya Mi-chan. Untuk melancarkan komunikasi, Mi-chan membawa kamus bahasa Inggris tebal… yang akhirnya gak kepake juga :p

20150520_102218

Tujuan kami adalah Festival Fujishibazakura yang berada di kaki Gunung Fuji. Sudo dan Mi-chan menjemput kami pagi-pagi buta untuk mengejar bus di Shinjuku yang berangkat pukul sembilan pagi. Karena hari itu adalah jadwal pulang, kami menitip luggage di sebuah locker di Tokyo station. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam (plus macet), berikut percakapan yang disponsori oleh Google Translate (lagi).

Sampai di festival, udara dingin langsung menusuk tulang. Sayangnya saat itu area sekitar Gunung Fuji juga diselimuti kabut tebal. Fujishibazakura adalah festival bunga tahunan berlangsung di kawasan kaki Gunung Fuji. Selain bunga, berbagai makanan khas festival juga dihidangkan, termasuk Horse meat Udon dan berbagai macam dessert dan snack yang menggunakan sari bunga sakura.

Festival ini adalah penutup maraton kami di Jepang, yang sampai berbulan-bulan masih terasa serunya. Sayonara Jepang, sampai kita berjumpa pula!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: