Pesona Thailand Utara (II)

“Who wants to buy opium?” tanya tour guide kami, Pak Job. Di hari berikutnya kami melanjutkan perjalanan ke “Golden Triangle” yang dulunya memang terkenal sebagai tempat opium.

Di hari kedua, petualangan kami dimulai pukul 7.30 pagi. Sebuah petualangan yang dimulai dengan kedatangan guide kami, Pak Job, ditemani dengan sang driver, Pak Lek. Bersama 12 orang lain, kami memulai full day tour ke Chiang Rai yang jaraknya tiga jam dari Chiang Mai. Malam sebelumnya, saya memastikan baterai HP terisi full supaya bisa ditemani musik sepanjang perjalanan.

Akhirnya sampailah kami di super famous dan krodit White Temple (Wat Rong Khun). Kuil ini ternyata dibangun oleh arsitek lokal Thailand Chalermchai Kositpipat dan rampung di tahun 1997.

Di antara kuil yang kebanyakan didominasi warna emas, coklat dan warna alam, white temple ini memang unik, termasuk toilet mewah yang berada di areanya. Toilet berlapis emas nan ciamik ini, bahkan menjadi spot foto favorit turis. Belum lagi permukaan kuil juga ditempeli kaca, jadi bisa kebayang kan dengan cuaca cerah, betapa silaunya kuil ini.

Kebetulan karena kami ke sana saat weekend, kami dateng berbarengan dengan rombongan turis lain. Yang artinya adalah, kami mesti siap dengan antrian panjang memasuki kuil. Saking ramenya para turis yang berfoto di depan kuil, kemacetan kerap terjadi. Dan seperti yang sudah diinformasikan oleh tour guide kami Pak Job, “you have to move fast. Because if not, there will be someone who will tell you to move faster! faster!”.

Awalnya saya pikir orang yang antri di belakang kita bakal teriak “faster”. Eh, ternyata ada petugas khusus bersenjata loud speaker yang melakukannya. Petugas ini, bicara dengan berbagai bahasa, termasuk ke salah satu grup dalam rombongan kami yang ternyata ikut bikin macet. “Rapido, Rapido!” kata sang petugas dengan bahasa Spanyol wkwkwkw.

Wonder Woman di Long Neck Karen Tribe Village

Berjarak 30 menit dari White Temple, kami sampai di Long Neck Karen Village. Pernah liat foto ini di National Geographic? Yep wanita-wanita seterongg ini beneran ada. Gimana enggak seterong, dengan logam seberat 2 kilogram di leher, mereka tetap melakukan aktivitas sehari-hari.

Menurut informasi Pak Job, para ibu di desa ini aslinya adalah orang Burma yang mengungsi ke Thailand Utara karena konflik politik. Kebanyakan dari mereka bertahan hidup dengan menenun, memahat dan membuat souvenir untuk dijual. Para ibu pun dengan ramah membiarkan kami memotret mereka. Jangan lupa, beli produk yang mereka jual ya, seenggaknya bikin mereka sedikit happy.

Jadi Vegetarian Karena Laos Whisky 

“Who wants to buy opium?” tanya tour guide kami, Pak Job. Yep, Golden Triangle dulunya memang terkenal sebagai tempat opium.

S__1196135

Tapi berhubung kami cuma bakal sampe perbatasan doang, jadi fotoan di plang yang ada tulisan “Welcome to Laos” buat kami cukup bikin bahagia lah ya. Dengan boat, kami menyusuri Sungai Mekong (Tau kan sungai ini melewati 6 negara termasuk China, Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam dan Thailand – ngarep sih nyampe di China pake boat hehehe) kemudian singgah di Done Xao market Laos. Pak Job bilang Done Xao ini semacam mini duty free, tempat kami bisa menemukan berbagai barang “branded” macam Hermes, Louis Vitton, Polo dan juga local whisky.

Bener aja ketika sampai di Done Xao kami menemukan berbagai macam tas, ikat pinggang dan pakaian KW branded, berbagai rokok yang katanya berkualitas baik tapi super murah. Dan yang paling penting, adalah the famous Laos whisky yang terbuat dari fermentasi ular cobra, kalajengking hingga alat kelamin singa. Hayo siapa berani?

Well, kalo kamu vegetarian seperti kami (ehm..biar aman deh), kalian tidak disarankan mencoba whisky tadi. Cukup air kelapa yang kata Windy rasanya aneh. Mungkin dikasi sedikit “penyedap rasa” Win :p

Rasa Jepang di Black House Museum Chiang Rai

Dalam perjalanan kembali ke Chiang Mai kami mampir ke Baan Dam Black House Museum. Di area museum ini ada sekitar 40 bangunan beragam bentuk. Di tempat ini, ada barang-barang unik yang bisa ditemukan termasuk meja kayu berwarna hitam super besar dengan kulit ular dan kulit buaya hingga ular phyton dan juga burung hantu.

Black House Museum ini bisa dibilang tempat paling adem di antara tempat-tempat yang kami kunjungi selama di Chiang Mai. Mungkin karena banyak pohon-pohon besar di area museum. Di dekat entrance ada beberapa pohon flamboyan yang bikin teduh, dan kebetulan sedang berbunga. Sangat fotogenik dan sedikit mengingatkan saya dengan Jepang.

Setelah perjalanan panjang akhirnya kami sampai di hotel jam 9 malam dan langsung sibuk packing karena besoknya harus mengejar flight pagi kembali ke Bali. Ah we wish we have more time to try the famous Thai massage! Yah siapa tau bisa balik lagi yaa..
Kob Khun Ka Chiang Mai! See you next time

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: