Pesona Thailand Utara (I)

“Chiang Mai dimana? China ya? Atau Vietnam?”
“Kenapa Chiang Mai? itu kan di desa, sama kayak di Ubud. Gak hip kayak Bangkok, Phuket atau Pattaya”

Ini daftar komentar teman-teman ketika saya bilang saya pengen ke Chiang Mai. Memang sih Chiang Mai tidak sepopuler Bangkok, Phuket, dan Pattaya. Tapi ketika pertama kali saya baca artikel tentang “desa” yang berlokasi di Thailand utara ini saya langsung tahu saya akan ke sana. It’s just calling me (ceile..)

Bersama teman saya Windy yang sangat excited memulai trip pertamanya, kami membeli tiket promo seharga Rp2,3 juta PP. Kami sampai di Chiang Mai sekitar jam 5 sore setelah perjalanan 2,5 jam dari Kuala Lumpur. Bandara di Chiang Mai itu besarnya sama seperti Bandara di Bandung hehehe…

Setelah melewati imigrasi, kami yang sudah mem-booking penjemputan dengan mobil hotel, awalnya berpikir bahwa akan gampang menemukan supirnya. Tapi setelah setengah jam bengong sambil menukar Bath di airport, gak satu pun kami melihat driver yang paging nama saya atau Windy. Ya sudah, daripada lumutan di bandara, kami pun berinisiatif memesan taksi bandara dengan ongkos THB 150 atau sekitar Rp50 ribu.

Hotel kami terletak dekat Night Bazaar, gak sampai tiga menit bisa jalan kaki ke Anusarn Market. Strategis banget deh. Bahkan mungkin, ini adalah salah satu tempat yang paling hip di Chiang Mai. Karena selama kami di sana, sebuah café di sudut jalan selalu menampilkan live music.

Anusarn Market ini pasar malem yang buka dari jam 6 sampe jam 11 malem. Ada live band (yep di dalem pasar), banyak stand makanan, pakaian, souvenirs, dan barang-barang lucu lainnya yang bisa ditawar! Benar-benar godaan mata dan perut. Enggak heran saya dan Windy saling mengingatkan supaya kuat iman, agar uang gak habis buat beli oleh-oleh di hari pertama.

 

Pagi-pagi sekitar jam 8.30, kami meninggalkan hotel menuju Wat Doi Suthep yang letaknya di atas gunung, sekitar 40 menit dari kota Chiang Mai. Wat Doi Suthep adalah kuil Buddha yang ada sejak tahun 1383 dan kami harus melalui 300 anak tangga untuk mencapai kuil utamanya.

Tour guide kami, Pak Ip, bilang di atas nanti kami bisa melihat pemandangan kota Chiang Mai. Tapi begitu sampai di TKP, saking takjubnya dengan stupa-stupa cantik yang semuanya terbuat dari emas, sampai waktu habis pun kami gak ngeh di mana kami mesti berdiri untuk ngeliat view kota Chiang Mai.

Walaupun saat itu suhu di Chiang Mai lagi super panas (serius, ini lebih panas dari Bali!) hal ini gak mengurangi pengunjung yang datang. Saya pun gak mau buang-buang waktu untuk ikut ritual keliling Pagoda searah jarum jam selama 3 kali sambil meletupkan doa, lengkap dengan setangkai lotus dan sebatang lilin.

Saking terkagum-kagum dengan kuil fotogenik ini, kami sampai lupa harus segera turun dan kembali ke meeting point untuk destinasi berikutnya. Tujuan selanjutnya adalah Doi Pui Mong Hill tribe village, sekitar 20 menit dari Wat Doi Suthep.

Jadi ceritanya, zaman dulu, penduduk di desa ini menanam opium sebagai aktivitas sehari-hari mereka. Sampai akhirnya Kerajaan Thailand membuat sebuah program kerja supaya penduduk desa ini tobat, gak menanam opium lagi. Ladang opium pun diubah menjadi ladang teh, kopi, dan bunga.

Oya, di sepanjang jalan kami juga menemukan banyak pedagang souvenir. Mulai dari pakaian, tas, scarf, hingga batu akik dan harganya lebih murah dari di Night Bazaar.

 

Cemilan Favorit Chiang Mai

Jam 12.30 kami balik ke pusat kota dan minta diturunkan di Wat Chedi Luang, sebuah kuil lain yang ada dalam list kami. Pak Ip dengan baik hati menurunkan kami tepat di depan kuil di daerah Old City. Di daerah Old City memang ada banyak sekali Wat (kuil), termasuk Wat Pan Thao yang jadi tetangganya Wat Chedi Luang.

Sebelum masuk kuil, Chiang Mai yang super panas memaksa kami untuk mengungsi ke tempat ber-AC sejenak, dan tentunya harus cari air putih! Di depan Wat Chedi Luang ada banyak tempat makan, tapi pilihan kami jatuh ke sebuah kafe mungil berwarna kuning menyala. Namanya Le Mango. Bisa ditebak kafe ini pasti jualan Mango Sticky Rice.

S__1196181

Seakan belum move on dari Mango Sticky Rice yang ada di Anusarn Market kami pun buru-buru memesan signature menu Mango Sticky Rice kafe ini. Dan entah kenapa, mangga di sini enak banget! I’m not a big fan of mango tapi selama di Chiang Mai saya suka mangga. Mangganya manis, agak asem dikit, tapi seger banget. Kenapa bisa gitu ya?
Kafe mungil ber-AC ini interiornya ceria, stafnya ramah, wifi juga kencang. Rasanya males beranjak keluar. Yah tapi karena kita cuma punya dua hari full di sini, jadi mau gak mau mesti keluar. Kami pun menyebrang dan memasuki area Wat Chedi Luang.

Dari luar entrance-nya terlihat seperti kuil biasa, mungkin karena di tengah kota kali ya. Tapi ketika kami masuk ke viharanya, interiornya cakep banget. Pilarnya tinggi, patung Buddha-nya besar dan tentu saja dengan pengunjung (termasuk para Biksu) yang ramai juga siang itu. Landmark yang selalu ada di situs-situs travel ternyata ada di belakang Vihara utama yang konon katanya dibangun sejak abad ke 14. Di sekitar kuil juga ada sebuah pohon besar semacam pohon meranti yang dipercaya sebagai pelindung kota Chiang Mai. Konon, jika pohon ini tumbang, maka bencana besar akan terjadi.

Siang itu temperatur di Chiang Mai yang berada di angka 39 derajat, memaksa kami mengurungkan niat untuk mengeksplorasi kota. Soalnya, kerongkongan rasanya minta diguyur air melulu. Windy malah sampai pusing dipanggang matahari. Karena itu, kami memutuskan kembali ke hotel dengan tuk-tuk dan melanjutkan jalan-jalan sore harinya.

Sekitar jam 5-an, saya mengajak Windy untuk memenuhi misi saya mencari Khao Soi. Ini adalah sebuah makanan khas Chiang Mai yaitu mie dengan kuah kari segar khas Thailand berisi mie kering di atasnya. Pokoknya mie deh.

Kami bertanya dengan reception yang sepertinya juga bingung di mana bisa mencari Khao Soi di hari Jumat. Berbekal petunjuk jalan, kami berburu Khao Soi sampai di Wororot Market dengan berjalan kaki. Wororot market adalah pasar yang menjajS__1196154.jpgakan bermacam macam snack dan makanan khas Thailand seperti sosis besar, Pad Thai. Sayangnya, di sini saya gak menemukan orang yang jualan serangga. Dan juga Khao Soi (sigh).

Ujung-ujungnya kami mesti jalan balik ke Anusarn market hanya untuk semangkok Khao Soi. Pokoknya ketemu Khao Soi adalah harga mati! Slurp!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: